vaccine tester

vaccine tester

Marketing Research atau riset pasar merupakan aspek yang sangat penting dalam setiap langkah bisnis yang dilakukan di dalam perusahaan. Di dalam kompetisi yang semakin tinggi tingkat persaingannya, setiap perusahaan mutlak dituntut untuk lebih siap dalam berbagai hal, terutama yang menyangkut keinginan konsumen yang semakin demanding di dunia yang semakin kompetitif ini. Sedangkan riset pasar merupakan penunjang informasi yang sangat penting agar sebuah perusahaan mampu bertahan di dalam kompetisi dan juga dalam perencanaan ke depan. Seperti ibaratnya dongeng tentang kehebatan pendekar Si Buta dari Goa Hantu, dimana yang berperan penting di dalam setiap kemenangannya adalah arahan-arahan si monyet dan bantuan tongkatnya. Nah, si monyet dan tongkat itulah dapat diibaratkan sebagai riset pasarnya.

Melalui riset pasar, perusahaan dapat menentukan selanjutnya langkah apa yang harus dilakukan guna menjawab keinginan dan kebutuhan konsumen. Atas dasar inilah, kegiatan-kegiatan marketing research sudah menjadi kebutuhan dasar bagi banyak perusahaan. Bagi perusahaan-perusahaan tersebut, riset pasar banyak digunakan untuk penunjang penyusunan business plan, perbaikan layanan, penunjang informasi bagi keputusan strategi promosi, evaluasi produk dan jasa, hingga perencanaan R&D produk baru. Menurut Philip Kotler riset pasar adalah sebuah proses pengumpulan, pencatatan, dan analisa data secara sistematik mengenai konsumen, pesaing, dan pasar secara garis besarnya. Kemudian pada dasarnya, riset pasar terbagi menjadi 2 (dua), yakni consumer research dan industrial research (B2B). Keduanya memegang aspek yang sangat penting untuk menunjang manajemen dalam pengambilan keputusan strategik.

Pemasaran dan pengembangan produk vaksin dan serum di Indonesia pun sudah seharusnya mengedepankan aspek pentingnya riset pasar, dimana produk vaksin sudah bukan lagi sebagai bentuk produk yang bersifat eksklusif namun lebih bersifat komersil dengan pesatnya kemajuan teknologi di bidang mikrobiologi. Kita bayangkan apabila riset pasar benar-benar diterapkan maka pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa yang terjadi di pasar vaksin di Indonesia?; Bagaimana pengaruh GAVI terhadap kondisi pasar di Indonesia?; Ke arah mana pengembangan vaksin harus ditekankan?; Siapa sebenarnya para kompetitor yang bermain di industri vaksin?; Apa pandangan konsumen tentang sebuah produk?; Mana yang terpenting antara promosi ke dokter atau langsung ke end-consumer atau cukup apotik saja?; akan terjawab dengan lebih meyakinkan.

Bagi Bio Farma, mengandalkan riset pasar bukan saja sekedar untuk mengetahui informasi pasar, namun juga sebagai langkah dalam membuat pondasi yang kuat dan bagian dari perencanaan bisnis 5-10 tahun kedepan dalam mempersiapkan diri menghadapi realisasi AFTA dan WTO dimana tidak akan ada lagi proteksi dari Pemerintah. Sedangkan bagi perusahaan farmasi Indonesia lainnya, riset pasar sangat diandalkan untuk menilai perencanaan ke depan di saat izin pendirian pabrik vaksin sudah dibebaskan, yakni dengan melihat tren vaksin 5-10 tahun mendatang, persiapan persaingan dengan masuknya produsen vaksin internasional di Indonesia, dan analisa pengembangan vaksin versus nilai jual. Kemudian bagi produsen vaksin internasional, riset pasar sangat penting untuk dapat membantu kalkulasi perlu tidaknya melakukan investasi besar-besaran di Indonesia di masa yang akan datang, atau keputusan kemungkinan akuisisi perusahaan farmasi nasional.