Alkisah di masa perang, seorang jenderal sangat dikenal dengan konferensi persnya yang brilian. Dia menjadi favorit wartawan berkat jawaban-jawaban yang sangat memuaskan atas pertanyaaan yang mereka ajukan. Si Jenderal tampak sangat menguasai permasalahan yang ditanyakan dan sekaligus menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang pemimpin militer yang sangat kompeten. Sang Jenderal mampu memberi jawaban singkat, tertata rapi dan gampang dimengerti.

Lokasi Foto: Pantai Anyer tahun 2007

Sepuluh tahun kemudian ketika Sang Jenderal telah menjadi presiden, tiba-tiba reputasinya jatuh di kalangan wartawan. Jawaban-jawaban Sang Presiden atas pertanyaan wartawan tidak tertata rapi dan menyimpang dari inti pertanyaan. Bahkan kadang-kadang tak sengaja memberi jawaban yang dianggap menyerang pemimpin negara sahabat.

Mengapa kemampuan Sang Jenderal merosot?

Tak lain karena Sang Jenderal tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang tipe pembaca dan bukan seorang tipe pendengar. Di masa lalu tatkala dia masih menjadi komandan perang, dia memiliki ajudan yang membuat aturan bahwa wartawan harus mengajukan pertanyaan tertulis paling lambat setengah jam sebelum konferensi pers. Sang Jenderal memiliki waktu untuk membaca & mengerti isi pertanyaan dan kemudian mampu memberi jawaban yang terbaik untuk pertanyaan tersebut.

Setelah menjadi presiden, dia tidak lagi melakukan hal itu. Dia terbawa oleh kebiasaan dua presiden pendahulunya yang merupakan tipe pendengar. Para pendahulunya tergolong manusia tipe pendengar yang sangat menikmati konferensi pers bebas (free for all), tanpa pertanyaan tertulis terlebih dahulu. Sang Jenderal yang tidak menyadari dirinya berbeda dengan pendahulunya berusaha melanjutkan tradisi tersebut yang berakibat jatuhnya reputasi dirinya.

Hal serupa terjadi pada seorang presiden lain yang merupakan tipe pendengar. Sang Presiden akan menguasai permasalahan bila disampaikan secara lisan. Namun dia tidak menyadari hal itu. Presiden yang digantikannya adalah seorang tipe pembaca yang memiliki asisten-asisten brilian yang bertugas membuat laporan tertulis untuk dibaca sebelum didiskusikan dengan dirinya. Presiden mempertahan para asisten dan kebiasaan laporan tertulis tersebut. Namun karena dia bukan seorang pembaca, dia tidak memahami laporan-laporan tertulis yang dibuat para asistennya.

Menurut Peter Drucker, seseorang seharusnya mengetahui bagaimana dirinya berkinerja. Apakah dirinya seorang pendengar atau seorang pembaca. Dengan mengetahui tipe kepribadian itu, seseorang dapat memaksimalkan kinerja dirinya dengan bekerja dengan metode yang sesuai dengan kepribadiannya (NL, 12 Sept 2008).

Referensi:

Peter F Drucker, 1999, Mengelola Diri, dalam A Usmara (ed), 2003, Managing Oneself, Amara Books, Yogyakarta.