Suatu ketika kita mendengar rekaman suara percakapan kita bersama teman-teman. Kemudian kita menganggap bahwa suara di tape recorder berbeda dengan suara kita yang sebenarnya. Namun ternyata semua teman-teman menyatakan bahwa suara rekaman sama persis dengan suara kita. Mungkin akan terlintas dalam benak kita, orang lain bisa jadi mendengar suara yang berbeda dengan suara yang kita dengar sehari-hari.

Adakah penjelasan untuk fenomena itu?

Penolakan terhadap kesamaan suara rekaman dengan suara seseorang umum terjadi. Suara dimulai dari larynx tempat dimana vibrasi berasal. Sebagian vibrasi disalurkan melalui udara dan kemudian didengar oleh orang-orang sekitar kita. Vibrasi itu jugalah yang ditangkap oleh alat perekam. Sebagian vibrasi yang lain disalurkan melalui cairan dan padatan pada kepala kita. Telinga bagian dalam dan telinga bagian tengah adalah bagian dari lubang yang dikelilingi tulang yang paling keras dari tengkorak. Telinga bagian dalam berisi cairan, sedangkan bagian tengah telinga berisi udara. Keduanya bersifat saling menekan satu sama lain. Larynx juga diselimuti jaringan lunak yang dipenuhi cairan.

Pengiriman suara melalui udara berbeda dengan pengiriman suara melalui padatan dan cairan. Perbedaan ini adalah penyebab utama perbedaan nada antara suara di tape recorder dengan suara yang kita dengar pada saat kita bicara. Pada saat kita bicara, kita bukan hanya menangkap suara melalui telinga, tetapi juga melalui internal hearing (pendengaran internal) yang sebagian besar merambat melalui sederetan organ tubuh kita.

Ibaratnya dalam sebuah pentas gitar solo, siapakah yang mendengarkan suara sebenarnya?. Dalam pertunjukan tersebut terdapat para pendengar, sang gitaris dan tape recorder yang tersimpan di dalam gitar. Tentu saja kita tidak dapat mengatakan tape recorder dan speaker adalah pihak yang mendengar suara yang sebenarnya.

^_^

Kita memiliki memori internal suara kita di dalam otak dan memori tersebut lebih kaya dibanding yang kita dengar pada tape recorder. Jadi mendengarkan rekaman pembicaraan kita seperti mendengarkan simponi pada radio transistor yang rusak, yaitu suara dapat dikenali tetapi terdengar seperti sebuah tiruan yang buruk terhadap suara kita.

sumber:
Why do other people hear our voices differently than we do?, Reader Diggest Asia, Edisi September 2008, hal 16